Berbagi, Mengabdi, Bersama Membangun Negeri

Kamis, 10 November 2016

Selamat Hari Pahlawan


“Mereka tidak ingin dikenang. Mereka ingin perjuangannya dilanjutkan.”
Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2016
-Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara Regional Jogja-
..
Share:

Rabu, 09 November 2016

Arisan Buku: Ajang Mempererat Silaturahim dan Menambah Koleksi Buku

Oleh: Imam Arifa’illah Syaiful Huda

(Foto: Arisan Buku Kelompok 1)

Ada banyak cara untuk mempererat silaturahim dan menambah koleksi buku. Salah satunya dengan cara arisan buku. Mendengar istilah arisan buku, mungkin banyak yang belum tahu. Pada umumnya, arisan hanya berupa uang, emas, motor, dan lain sebagainya. Arisan buku merupakan suatu kegiatan kreatif yang bertujuan untuk mempererat silaturahim antaranggota komunitas Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara, khususnya di Regional Jogja. Arisan buku ini bisa menjadi salah satu opsi untuk dijalankan oleh komunitas yang bergerak dibidang literasi.
Beberapa prinsip program arisan buku adalah sebagai berikut:
  1. Arisan buku dilaksanakan pada hari ulang tahun anggota yang ikut serta dalam program arisan. Kegiatan arisan ini dirancang sebagai moment untuk merayakan ulang tahun anggota. Pada umumnya, hari ulang tahun merupakan salah satu hari spesial bagi setiap orang, sehingga pelaksanaan arisan buku sangat cocok dilaksanakan pada moment ini, sekaligus moment untuk memberi kado secara kolektif.
  2. Jumlah anggota arisan buku sebaiknya 12 orang. Jika banyak anggota yang berminat untuk bergabung, bisa dibagi menjadi dua kelompok. Batasan jumlah anggota bertujuan agar tidak terlalu memberatkan anggota secara finansial karena setiap anggota memiliki kemampuan finansial yang berbeda.
  3. Anggota arisan sebaiknya dipilih yang mempunyai bulan lahir berbeda, sehingga kegiatan arisan ini dapat dilaksanakan setiap bulan dengan satu perayaan ulang tahun saja dalam satu bulannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak memberatkan para anggota arisan.
  4. Kriteria buku yang diberikan bisa berupa buku baru atau buku yang pernah dibaca (kondisi buku masih bagus). Tidak ada batasan berapa harga buku yang harus dibeli. Sebelum membeli kado, koordinator sebaiknya menanyakan kepada calon penerima buku seputar tema buku yang disukai.
(Foto: Arisan Buku Kelompok 2)

Pada intinya, kegiatan arisan buku diharapkan dapat menginspirasi semua orang untuk menambah koleksi buku. Selanjutnya, koleksi buku ini diharapkan menjadi salah satu sumber belajar bagi orang–orang yang ada di lingkungan sekitar kita. Akhirnya, hal sederhana yang bisa kita peroleh dari kegiatan ini yakni berbagi kebahagian akan mendatangkan banyak pintu-pintu rejeki dengan tetap menjalin silaturahim. #salammengabdi.
Share:

Minggu, 30 Oktober 2016

Sepenggal Cerita dari Seorang Surveyor

Oleh: Wilda Fathoni


Romansa Konservasi

Apa jawaban kebanyakan anak-anak saat ditanya jenis pekerjaan yang mereka inginkan saat dewasa kelak? Jawaban klise yang pasti kudengar adalah dokter, pilot, polisi, pengusaha, artis dan dokter. Sangat jarang atau bahkan tidak ada seorang pun yang menyebut dengan lantang ingin jadi seorang konservator atau penjaga alam. Jangankan untuk berkeinginan, makna penggiat konservasi saja mereka tidak tahu.

Realitas seperti ini tentunya tidak terlepas dari minimnya kesadaran orang tua dan masyarakat dalam menanamkan kebiasaan menjaga lingkungan alam, sekaligus rendahnya pemahaman mereka tentang pekerjaan di bidang konservasi alam. Kebanyakan orang berpikir para konservator hanyalah sekumpulan orang yang hobinya keluar-masuk hutan, dan berkutat dengan tumbuhan dan hewan yang hampir punah. Salah satu tugas konservator sebenarnya adalah mengawal proses pengusulan pegunungan karst sebagai situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Aktivitas ini bukan hanya terfokus pada aspek fisik hutan itu sendiri, tetapi berhubungan pula dengan masyarakat dan pemerintah.

Masyarakat harus terlibat secara aktif dalam upaya konservasi hutan agar dapat mengelola hutan, menjaga hutan, dan sekaligus mendapatkkan manfaat nyata dari hutan. Peran masyarakat dalam konservasi hutan sangat penting. Upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan harus terus ditumbuhkan. Masyarakat selama ini terbiasa mengambil hasil hutan dengan bebas. Jika dibatasi dan dilarang, pasti akan timbul masalah. Mengubah kebiasaan itu tidak mudah, apalagi untuk memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat tentang hutan lindung, tentu butuh waktu dan kesabaran.

Masyarakat yang berpastisipasi dalam pengembangan hutan lindung adalah masyarakat adat Dayak. Mayoritas masyarakat Dayak hidup mengandalkan hutan. Segala aktivitas kehidupan masyarakat yang dulunya berhubungan dengan hutan kini mulai berubah. Ciri khas identitas masyarakat Dayak mulai menghilang. Konservasi memunculkan kesadaran masyarakat untuk hidup dan bergantung dengan hutan sembari menjaga hutan. Romantisme inilah yang ingin dikembangkan sehingga dalam masyarakat dapat tumbuh kebanggaan sebagai seorang Dayak.

Namun, manfaat konservasi tidak berhenti pada rasa bangga saja. Perlu adanya peningkatan ekonomi, pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan. Berbicara tentang konservasi hutan tidak lepas dari peran pihak swasta yang mendapatkan izin pemerintah untuk memanfaatkan areal hutan. Perusahaan-perusahaan yang memilik hak konsesi perlu diawasi dengan baik untuk memastikan proses produksi yang dilakukan benar-benar ramah lingkungan serta memastikan areal lahan yang akan ditebang sehingga pelepasan karbon dapat di minimalisir.

Bumi tanpa hutan

Apa jadinya bumi tanpa hutan? Bila hutan musnah, apakah masih ada kehidupan di bumi? Mungkinkah manusia, berbagai makhluk hidup lain, dan kehidupan lain mampu hidup tanpa keberadaan hijaunya hutan? Pentingkah keberadaan sebatang pohon dan berhektar-hektar area hutan?

Sungai Merabu

Pohon. Makhluk hidup ciptaan Tuhan yang tumbuh menjulang ke langit serta mengakar menghujam kuat ke tanah, memiliki daun yang rimbun, memberikan kehidupan bagi makhluk bumi lainnya. Makhluk hebat ini mampu menyerap gas karbon dan menyimpannya dari ranting hingga akar. Sebuah pohon dewasa mampu menyerap gas CO2 hingga 48 ton tiap tahun, menyimpan satu ton gas CO2 hingga usia pohon mencapai 40 tahun, dan menghasilkan oksigen untuk 4 orang. Coba saja hitung banyak emisi karbon yang dapat tersimpan pada jutaan hektar hutan yang berumur ratusan tahun? Pasti banyak sekali manfaatnya.

Keunikan dari pohon yaitu, gas CO2 yang diserap dan tersimpan akan terlepas ke atmosfer saat pohon ditebang. Pelepasan gas CO2 ini yang berdampak pada meningkatnya emisi karbon. Sehingga, pohon dapat menjadi solusi tetapi juga dapat menjadi penyebab pemanasan global dan perubahan iklim yang dipicu emisi gas CO2. Coba bayangkan berapa juta ton karbon yang terlepas ke atmosfer saat jutaan hektar hutan Indonesia yang menyerap dan menyimpan karbon sejak ribuan tahun lalu ditebang untuk perkebunan? Tentunya tidak perlu bertanya mengapa suhu di bumi semakin panas.

Indonesia sangat beruntung dikaruniai hutan luas yang menjadi paru-paru dunia. Hutan yang luasnya jutaan hektar menutupi 52,3 persen luas daratan Indonesia dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan hutan terluas ke-9 di dunia. Sementara itu, hutan tropis Indonesia merupakan yang terluas ke-3 di dunia setelah Brazil dan Kongo. Kawasan hutan ini menyimpan kekayaan hayati yang tidak ternilai.
Bukit Karst Merabu

Menurut Pak Hadi, salah satu porter kami di Kawasan Karst Batu Gergaji, sekarang hutan telah berubah sangat drastis. Lelaki yang sering keluar-masuk hutan sejak tahun 1997 ini, bercerita bahwa hutan tropis di Kalimantan dulu sangat bagus. Pohon-pohon tak terhitung banyaknya. Meranti merah, meranti putih, gaharu, ulin dan banyak lagi jenis pohon  lainnya dengan diameter bervariasi dapat ditemui dengan mudah. “Dulu sebelum banyak logging, saat saya sering masuk hutan dan berbaring di pondokan saat malam hari, dari kejauhan sering terdengar bunyi menggelegar. Itu suara pohon-pohon tumbang. Mungkin karena lapuk. Namun sekarang, suara pohon tumbang seperti itu tidak lagi terdengar. Hutan tidak seperti dulu. Pohon tua di hutan dulu tumbang secara alami, tapi sekarang tumbang karena mesin gergaji,”cerita Pak Hadi.

Deforestasi hutan Indonesia utamanya disebabkan kebakaran hutan, penyalahgunaan HPH, alih fungsi hutan, dan pemekaran wilayah. Rusaknya hutan-hutan Indonesia paling besar disebabkan kegiatan industri, terutama industri kayu yang menyalahgunakan izin HPH, yang mengarah pada pembalakan liar. Penebangan hutan semakin tak terkendali saat pemerintah membuat program Hutan Tanaman Industri (HTI). Jutaan hektar hutan dibabat habis untuk dijadikan areal HTI. Namun, sebagian besar diantaranya tidak pernah ditanami.

“Puncak kerusakan hutan terjadi sejak tumbangnya Orde Baru tahun 1999,” ujar Pak Hadi.

Alih fungsi lahan hutan untuk perkebunan, pertambangan, dan pemukiman mengakibatkan semakin berkurangnya luas hutan Indonesia. Indonesia kini merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.“Booming-nya industri sawit membutuhkan lahan luas. Hingga Juni 2010, beberapa juta hektar telah dibabat, dikeringkan, dan dibakar untuk ditanami kelapa sawit,” terang Pak Hadi. Ekspansi perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama kerusakan hutan di Kalimantan karena dilakukan tanpa memerhatikan analisis dampak lingkungan. Rusaknya hutan bukan hanya berdampak pada kegagalan fungsi hutan sebagai pengatur iklim dengan menampung CO2 dan menghasilkan oksigen, tetapi juga menghilangkan sumber air dan memusnahkan rumah bagi spesies flora dan fauna yang tak ternilai harganya. Selain itu juga mengancam perekonomian dan mengikis kebudayaan orang-orang Dayak yang bergantung pada hutan.

Bagi masyarakat Dayak, hutan adalah dunia, sumber utama dan awal mula kehidupan. Hutan merupakan sumber utama kehidupan ekonomi, tempat berladang dan berburu. Sumber kehidupan berbudaya, tempat bahan ramuan herbal, alat rumah tangga, dan perlengkapan untuk upacara adat dan budaya. Bagi mereka hutan adalah rimba warisan nenek moyang untuk dijaga dan dinikmati hasilnya secara berkelanjutan. Namun era modernisasi mengusir masyarakat Dayak dari hutan. Bermodalkan izin HPH, para pengusaha menggusur masyarakat Dayak dari hutan adat, warisan nenek moyang mereka. Menurutku, hutan tidak hanya memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tetapi juga nilai budaya yang tinggi. Dalam hutan pasti ada situs-situs budaya yang dikeramatkan. Hutan lenyap, Dayakpun pasti lenyap, karena seluruh aktivitas masyarakat berhubungan dengan hutan dan terdapat jenis pohon yang memiliki fungsi penting bagi mereka. Contohnya pohon upas. Getahnya digunakan untuk racun pada sumpit yang dipakai berburu. Racun itu sangat keras dan bisa bertahan hingga sebulan. Jika kayu itu hilang, maka racun sumpit untuk berburu akan punah pula.
Sungai Merabu

Rusaknya hutan membuat masyarakat Dayak susah berburu seperti payau, babi hutan dan binatang buruan lainnya. Masyarakat kesulitan mendapatkan kayu ulin yang menjadi bahan dasar lungun. Lungun adalah tempat menyimpan mayat dan semua harta almarhum semasa hidup sebelum dikubur dalam tanah. Apabila hutan gundul dan kayu sulit ditemukan, budaya Dayak pun lenyap.

Hutan mempengaruhi aspek manusia. Hutan sangat penting bukan hanya bagi orang-orang rimba seperti masyarakat Dayak, tetapi seluruh makhluk hidup di bumi.

Tanpa hutan, kita tidak punya sumber oksigen.

Tanpa hutan, makhluk hidup tidak memiliki bahan makanan.

Tanpa hutan, makhluk hidup tidak memiliki sumber air.

Tanpa hutan, makhluk hidup menghadapi bencana sepanjang tahun.

Mari selamatkan hutan alam yang tersisa, karena bumi tanpa hutan sama artinya dengan bumi tanpa kehidupan.
Share:

Jumat, 28 Oktober 2016

Selamat Hari Sumpah Pemuda!


Pemuda itu bukan mereka yg usianya belasan, duapuluhan, tigapuluhan, atau berapa puluhan lainnya. Pemuda bukan sekedar soal pengelompokan usia.

Pemuda adalah mereka yang bersemangat merancang masa depan suatu bangsa. Adalah jantung yang menghidupkan semangat tumbuh kembang kemajuan. Adalah nadi pembawa perubahan.

Pemuda adalah KITA!

Memperingati 88 tahun Sumpah Pemuda, semangat berkarya para muda Indonesia! Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa!



Yogyakarta, 28 Oktober 2016
Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara
Share:

Minggu, 18 September 2016

Memantaskan Diri untuk Menjemput Mimpi

" Tugas kita hanya memantaskan diri untuk mimpi kita di hadapan Allah. Jika Allah telah berkehendak dan menganggap kita pantas mendapatkannya, maka tidak ada satu hal pun yang dapat menghalangi kita untuk mendapatkannya." 
 Oleh: Mawwadatul Ashfa
Jika orang lain hanya mempercayai kata-kata itu, saya meyakininya. Memantaskan diri untuk mimpi, itulah yang saya yakini selama ini. Keinginan saya untuk mengikuti program internasional terutama exchange sudah ada sejak lama sebelum saya masuk ke dunia perkuliahan. Saya bahkan menuliskan keinginan saya tersebut di dinding kamar saya, di buku agenda saya dan di laptop saya. Namun apalah arti sebuah mimpi bila tanpa sebuah usaha untuk mewujudkannya?

Awalnya, saya ingin mengikuti program exchange yang diselenggarakan oleh fakultas, yang mensyaratkan mahasiswa minimal semester 3 yang dapat mengikuti program tersebut. Namun, ketika saya masuk semester 3, program exchange tersebut telah ditiadakan oleh fakultas. Ternyata, Allah menjawab mimpi saya dengan cara lain melalui International Youth Singapore Cutural and Education Exchange 2016 yang diadakan oleh EdConex Indonesia, tentu saja setelah saya berhasil lolos seleksi berkas dan wawancara.

Kegiatan IYSCEE ini bertema Strategic Development of Singapore Education. Rangkaian kegiatan inti dari program ini adalah International Seminar, International Panel Discussion, Cultural Exchange. Dilanjutkan dengan kegiatan Campus Visit dan Field Trip.

Seminar Internasional ini diadakan di NTU dengan tema The Singapore Education Development Strategy. Seminar ini membahas tentang sistem pendidikan di Singapura berikut penerapannya serta membahas bagaimana budaya yang berkembang dalam masyarakat sehingga terbentuk masyarakat yang terdidik dan berpendidikan. 

Kegiatan diskusi panel (International Panel Discussion) dilakukan usai seminar internasional. Pada diskusi ini, semua delegasi menjadi speaker dan mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai berbagai persoalan tentang pendidikan di Indonesia dan solusi yang bisa ditawarkan untuk memecahkan persoalan tersebut. Dimulai dengan mengupas tentang What is good and bad about Singapore education development strategy? What is good and bad about Indonesia education development strategy? What can be implemented into Indonesia from Singapore education development strategy? Diskusi ini dilakukan dengan mahasiswa NTU, sehingga para delegasi mempunyai gambaran langsung dari mahasiswa NTU tentang bagaimana sistem pendidikan di Singapura. Harapan kedepannya, hasil dari diskusi ini akan dibukukan dan dapat disampaikan kepada birokrasi pemerintah, sebagai wujud konstribusi nyata terhadap pendidikan Indonesia.

Kegiatan selanjutnya adalah Cultural Exchange. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah pengalaman, khususnya terkait kebudayaan di Singapura. Bentuk kegiatannya berupa kunjungan ke tempat-tempat yang menyimpan nilai sejarah Singapura, seperti Little India, Mesjid Sultan dan Chinatown. Kunjungan ini juga bertujuan untuk mempelajari budaya masyarakat Singapura sebagai negara maju. Tatanan kehidupan di Singapura sangat disiplin, toleransi, bersih dan tertib. Selain itu, sistem pemerintahan di Singapura yang sangat tertata menjadi salah satu pendukung Singapura menjadi negara maju seperti saat ini, terutama dalam bidang pendidikan. Singapura merupakan salah satu dari 10 negara terbaik yang memiliki sistem pendidikan berkualitas.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Campus Visit, yang berlangsung di NTU. Campus visit ini bertujuan untuk menambah wawasan, serta memahami budaya belajar mengajar di salah satu kampus terbaik dunia. Hal ini menjadi salah satu referensi bagi kami untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Dilanjutkan dengan Field Trip yang merupakan kegiatan berwisata di berbagai objek wisata Singapura, yang sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang berlibur oleh para delegasi. Field Trip ini meliputi beberapa obyek wisata, diantaranya adalah Universal Studio, Garden by the Bay, Merlion Park dan Asian Civilisation Museum. Asian Civilisation Museum yang bertempat di sebuah bangunan bersejarah dekat Singapore River ini menceritakan kisah peradaban budaya Asia kuno melalui koleksi permanennya.

Di bagian akhir catatan perjalanan saya, saya ingin menggarisbawahi bahwa memantaskan diri bukan hanya tentang mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan keinginan kita. Kita juga harus meyakini bahwa apa yang kita impikan bukan hanya sekedar angan kosong, melainkan angan yang pasti bisa untuk diwujudkan. Meyakini bahwa dengan adanya kegagalan yang bertubi-tubi menghampiri, justru akan semakin mendekatkan pada mimpi kita. Serta, meyakini bahwa setiap doa dan usaha yang tercurahkan tak ada yang sia-sia dan pasti akan ada ijabah nantinya.
Share: