Berbagi, Mengabdi, Bersama Membangun Negeri

Minggu, 26 Februari 2017

PUISI : Lelaki Bermata Binar

Oleh : Mariyani Arthami



binar itu ada di mata mu..
binar itu terlukis dengan senyum mu..
binar itu mengatakan ada kejujuran dalam setiap bait mu..
tanpa tanya aku pun terhanyut dan menerima pengakuanmu..

sungguh senja itu tak terlupakan oleh ku..
kau mengalahkan kisah akan harta dan kuasa..
kau mengalahkan nikmatnya dunia karena aku merasa bak Dewi Shinta…
dan sekali lagi Matamu itu berbinar lagi, lagi dan lagi…
hingga aku lelap dalam kisahmu ini …
hingga aku bingung apakah hatiku selaras dengan akal ku..

tapi sudahlah…
aku diperdaya binar mu itu…

senja itu kembali lagi tapi kali ini detak jam tlah terhenti..
kita di kisah kan tapi senja itu membuat binarmu penuh kebohongan.
maka binarmu di senja itu membuat aku membencimu…
kenapa binar mu mampu mengelabuiku hingga aku pikir kejujuran, kau sembah kan untukku….

senja kali ini menenggelamkan aku dan mengakhiri jiwaku..
maka aku bertanya apakah ini pantas untukku

binarmu itu membuat aku ingin menghujam mimpi dan kisahku..
dan aku,
lagi, lagi lagi terpesona akan binarmu ….

binarmu…
senja itu…
kisahku..
dan kejujuran mu membuatku dengan lantang..
lalu berkata
pergilah, pergilah,  sebelum aku merubah kisah mu…
karena binar mu mematikan kisah cinta ku…

untukmu Lelaki bermata binar..
dengan segala sakit yang terhujam di hatiku.

Senja, Yogyakarta
20 Februari 2016
.
.
.
Share:

Bersama Perkataan ada Kekuatan

Oleh: Ma’rifatun Nisa

Benar apa yang sering kita dengar, bahwa lidahmu adalah harimaumu. Lidah bisa membunuh siapa saja yang tidak hati-hati menggunakannya. 
Sembarangan bicara, asbuny (asal bunyi), seenaknya sendiri, dan sering tanpa filter pada pengucapannya.
Terkadang manusia sering menyepelekan segala apa yang dikatakannya. Mereka tak mengerti betapa dahsyatnya sebuah kekuatan perkataan. Perkataan yang dimaksud disini tidak hanya perkataan yang keluar melalui lisan, namun termasuk juga perkataan dalam hati atau orang Jawa menyebut “mbatin”. Sekalipun mereka mengira tak ada yang mendengar apa yang dikatakan, mereka tak ingat bahwa selalu ada Allah yang mengawasi gerak-gerik makhluk-Nya.
Ada sebuah kisah seorang anak yang tengah mengikuti acara wisuda disekolahnya. Ketika pembawa acara mengumumkan para juara maju ke panggung untuk menerima hadiah, dia berkata dalam hatinya “Tahun depan, aku yang akan berdiri disana menjadi juara”. Dia tidak menyangka jika ternyata saat tiba acara wisuda kelulusannya, dia menjadi juara satu dan berdiri dipanggung tepat seperti apa yang pernah dikatakannya setahun lalu.
Betapa lebih banyak lagi diluar sana yang pernah mengalami kekuatan perkataan. Hal ini juga menafikan makna tidak mungkin, selama Allah menghendaki. Bahkan diabadikan dalam sebuah lagu milik salah satu band tanah air yang cukup terkenal, “…karena setiap kata adalah do’a…”
Sepenggal cerita diatas juga membuktikan bahwa didalam perkataan tersimpan kekuatan untuk meraihnya. Kekuatan untuk meyakinkan kemampuan diri. Kekuatan yang membuat sesuatu yang tadinya hanya berupa perkataan menjadi sebuah kenyataan. Kekuatan sangat dahsyat yang memberikan efek baik-buruk tergantung perkataan yang diucapkan.
Jika kisah diatas adalah sebuah perkataan yang baik, maka perkataan yang buruk pun bisa saja terjadi. Misalnya jika ada seorang anak yang diminta mencoba suatu hal namun terus berkata “aku tidak bisa…”, maka secara otomatis syaraf yang ada dipikirannya akan menghantarkan informasi “tidak bisa” keseluruh tubuh si anak. Alhasil, si anak benar-benar menjadi tidak bisa. Itu karena kekuatan yang ditimbulkan dari perkatannya adalah kekuatan jelek, kekuatan yang melemahkan. Contoh lain adalah oranglain yang berkata, tapi efeknya terjadi pada dirinya atau dalam ilmu sosiologi disebut teori labeling. Yakni apabila oranglain terus mengatakan (men-cap) dia pencuri padahal nyatanya bukan, dan karena kekuatan-kekuatan dari perkataan oranglain terus memenuhi pikirannya, akhirnya dia benar-benar menjadi seorang pencuri.
Semua orang wajib berhati-hati dalam berkata. Berfikirlah dahulu sebelum mengeluarkan kata-kata agar tidak menyinggung atau menyakiti oranglain. Terutama untuk para orangtua dan guru agar tetap menjaga perkataan mereka didepan anak-anak dan siswa-siswinya. Juga bagi Anda pada umumnya, pikirkan baik-baik sebelum berkata pada diri sendiri agar kekuatan yang dihasilkan dari perkataan tersebut berbuah positif untuk keberhasilan maupun kebaikan diri sendiri dan sekitarnya. Fakkir qobla an ta’zima, berfikirlah dahulu sebelum bertindak.
Berhati-hatilah pula saat berbincang-bincang dengan orang lain. Ingat, perkataan yang Anda ucapkan setidaknya akan berpengaruh terhadap orang yang mendengar ucapan Anda tersebut. Jauhi perkataan yang sia-sia. Jangan jadikan perkataan Anda sebagai pedang yang dapat menikam orang lain. Namun, jadikanlah perkataan sebagai alat untuk mengasihi satu dengan yang lainnya.
Share:

Senin, 20 Februari 2017

Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara: Tanamkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika Melalui Kompetisi Karya

Oleh: Retno Purwa
Kampanye budaya membaca sedang ramai diperbincangkan di Indonesia. Banyak komunitas baca, taman baca dan kegiatan literasi yang bermunculan guna mensukseskan peningkatan minat baca generasi muda. Tidak mau ketinggalan, Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) yang berdiri sejak tahun 2015 pun ikut andil dalam mengkampanyekan budaya membaca, bahkan sampai ke daerah-daerah yang sulit mendapatkan akses bacaan.
Komunitas ini didirikan oleh seorang pemuda kelahiran Lamongan, Jawa Timur, bernama Imam Arifa’illah Syaiful Huda. Memasuki tahun keduanya berdiri, Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara sudah tersebar di 12 kota di 6 propinsi. Regional, sebutan untuk cabang Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara berlokasi di Malang, Lamongan, Jember, Pasuruan, Madiun, Kediri, Probolinggo, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Medan, dan Palu. Tidak hanya memotivasi para remaja untuk gemar membaca, GPAN juga mendorong siswa/siswi usia sekolah untuk berlatih menuliskan karya. Setelah sukses dengan Lomba Esai dan Fotografi di peringatan HUT pertamanya 25 April 2016, kali ini GPAN kembali mengadakan Lomba Cipta Puisi bertajuk Bhinneka Tunggal Ika.
Tema Bhinneka Tunggal Ika dipilih untuk menanamkan kembali rasa cinta para pemuda terhadap keberagaman yang ada di Indonesia. Dengan menuangkan rasa cinta terhadap keberagaman dalam sebuah karya, diharapkan pesan persatuan yang terkandung di dalam karya puisi para peserta akan lebih mudah melekat di hati penulis maupun pembaca nantinya.
Berbeda dengan event lomba sebelumnya yang terbuka untuk kategori umum, Lomba Cipta Puisi ini hanya diperuntukkan bagi siswa/siswi SMA sederajat. Bukan tanpa alasan, pengkhususan kategori ini dimaksudkan agar lebih banyak mewadahi karya-karya siswa SMA dalam bentuk buku yang terpisah dari penulis-penulis senior yang karyanya sudah banyak dibukukan. Oleh karena itu, dalam event Lomba Cipta Puisi kali ini Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara mengajak seluruh guru Bahasa Indonesia untuk turut serta mendukung kesuksesan pelaksanaan lomba.
Peran guru Bahasa Indonesia di sini sangat penting, mengingat puisi menjadi salah satu materi yang harus dikuasai oleh para siswa di tingkat SMA. Guru dapat memberikan motivasi dan juga bimbingan bagi siswanya yang ingin mengikuti lomba. Ini bisa dijadikan ajang praktik langsung pembuatan puisi oleh para siswa yang berpotensi untuk dibaca banyak orang setelah dibukukan. Selain itu, sebagai pembimbing mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, guru dapat juga berperan dalam mengoordinir pengiriman karya secara kolektif untuk beberapa siswanya sekaligus. Hal ini mengantisipasi kondisi bahwa tidak semua siswa memiliki akses yang mudah untuk berinteraksi dengan internet, khususnya untuk siswa dari daerah 3T.
Harapan dari penyelenggara, Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara semakin dekat dengan kalangan muda Indonesia untuk sama-sama mengkampanyekan budaya membaca dan berkarya demi masa depan Indonesia yang lebih bersinar.
Info Lomba Cipta Puisi Bhinneka Tunggal Ika dapat diakses di http://gpan.or.id/cipta-puisi/
Share:

Minggu, 12 Februari 2017

RESENSI: Pudarnya Pesona Cleopatra

Oleh: Fifi Fatmawati

DATA BUKU
Judul Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra
Pengarang : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika
Kota Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2005
Tebal Halaman : 110 halaman 20,5 x 13,5 cm

“Cinta tidak menyadari kedalamannya,
sampai saat ada perpisahan”
(Kahlil Gibran)
          Manusia pasti menginginkan sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya. Tetapi kenyataan tidak selalu seirama dengan ekpektasi. Kadang dalam hidup, kita menginginkan sesuatu yang menurut kita baik tapi tidak menurut Allah SWT. Dan kadang kita tidak menginginkan sesuatu yang tidak baik terjadi dalam hidup padahal baik menurut Allah SWT. Biarlah Allah SWT yang menentukan jalan hidup kita. Sebagai hamba-Nya, kita hanya bertugas untuk memantaskan diri dan menerima segala takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya dengan segala keyakinan dan lapang dada. Sesungguhnya tidak ada takdir Allah yang tidak membawa kebaikan serta keberkahan bagi hamba-Nya.
          Masih sama seperti novel-novel, seperti Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, Kang Abik, begitu sapaan hangatnya, masih menghadirkan nuansa Mesir dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra ini dan juga ciri khasnya yang tidak terlepas dari kisah cinta karena Allah.
          Dalam novel ini terdapat dua pemeran utama. Pria yang memperistri seorang wanita bernama Raihana dengan tidak didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang. Pernikahan yang dijalani hanyalah sebagai bukti bakti kepada ibunya yang dianggap segalanya sepeninggal ayahnya. Raihana adalah seorang wanita shalehah yang cantik dengan perawakan baik, berjilbab rapi, sarjana pendidikan dan juga hafidz Al-Qur’an. Ia mencintai suaminya dengan sepenuh hati meskipun sang suami belum bisa mencintainya dengan cara yang serupa.
          Pria (pemeran utama) tersihir oleh kecantikan gadis Mesir yang dianggap sebagai titisan Cleopatra, Ratu Mesir pada zaman Romawi. Dalam angan, pria ini menggambarkan gadis Mesir sebagai sosok yang sempurna dengan paras cantik nan jelita, kulit putih bersih bersinar, mata bulat bening khas Arab, bibir merah halus merona, dengan hidung melengkung indah yang menghiasi wajah. Wajah yang bersinar seperti permata Zabarjad yang bersih, indah dan berkilauan dalam balutan jilbab sutera. Senyuman yang terlukis di wajah mereka mampu menyihir bahkan meluluhlantakkan dinding iman siapa saja yang melihatnya. Bahkan dikatakan apabila ada 8 orang gadis Mesir yang berdiri dihadapannya, maka yang cantik ada 16 karena bayangan dari gadis Mesir itu pun turut cantik rupawan. Aura pesona kecantikan gadis-gadis Mesir sedemikian kuat mengakar dalam otak, perasaan dan hati sampai-sampai menjajah cita-cita, mimpi serta harapannya.
          Sementara ia terbang jauh dan semakin hanyut dalam khayalan menikahi gadis Mesir suatu saat nanti, ia melupakan istrinya. Ia menyia-nyiakan istrinya. Ia mengabaikan istrinya. Ia merasa dirugikan oleh keadaan. Ia merasa hidupnya sia-sia. Dalam hatinya tercipta tembok penghalang yang sukar untuk diruntuhkan. Padahal istrinya, Raihana, wanita yang telah dinikahinya, adalah wanita shalihah yang patuh kepadanya, yang bersedia mencurahkan seluruh hidup untuk suami yang dicintainya. Meskipun sering mendapat perlakuan buruk, Raihana tetap setia. Raihana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Raihana tetap melayani suaminya yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Raihana adalah perempuan Jawa sejati yang selalu berusaha menahan segala cobaan dengan kesabaran. Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun seringkali mendapatkan perlakuan dingin dan acuh tak acuh dari suaminya. Satu hal yang tidak Raihana inginkan yaitu perceraian. Perceraian adalah neraka baginya. Tangis dan lantunan ayat suci Raihana tetap belum juga bisa merobohkan dinding hati suaminya. Sampai pada suatu hari, Raihana hamil. Kehamilan yang terjadi karena kepura-puraan sang suami yang lagi-lagi didasari oleh ketidakinginan untuk mengecewakan sang ibu bukan atas dasar cinta dan kehendaknya sendiri. Seiring berjalannya waktu, dengan kekuatan do’a yang Raihana panjatkan dalam setiap shalatnya, dinding hati suaminya perlahan-lahan mulai runtuh dan sedikit demi sedikit mulai berubah. Dia mulai benar-benar mencintai istrinya, Raihana. Dia mulai sadar akan pengorbanan istrinya selama ini yang telah ia sia-siakan. Ia mulai sadar dengan kedzaliman yang selama ini telah ia perbuat kepada istrinya. Ia menyesal. Namun sayang, penyesalan selalu datang terlambat. Raihana yang waktu itu tengah hamil tua mengalami musibah sehingga menyebabkan dia dan anak yang ada di dalam kandungan tidak terselamatkan. Ia terlambat. Raihana telah tiada. Raihana telah meninggalkannya untuk selamanya tanpa memberikan kesempatan untuk sekedar meminta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumnya dengan penyesalan dan rasa bersalah. Betapa cinta tidak menyadari kehadirannya sampai saatnya terjadi perpisahan.
          Novel ini memang benar-benar novel pembangun jiwa. Banyak hal menarik yang terjadi dalam novel ini. Penulis mampu membuat pembaca hanyut dalam emosi, disisipi dengan puisi-puisi yang mendukung serta akhir dari cerita yang tidak terduga. Bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami. Jalan cerita yang disuguhkan sederhana tetapi menimbulkan kesan yang mendalam. Novel ini mengajarkan kepada kita bahwa kecantikan bukanlah segalanya. Novel ini juga membuktikan bahwa penyesalan memang selalu datang terlambat. Dalam novel ini, penulis juga menyampaikan amanat secara tersirat bahwa segala sesuatu tidak hanya dinilai dari kecantikannya saja karena kecantikan bukanlah suatu hal yang abadi. Kita sebagai manusia janganlah sekali-kali meremehkan nikmat atau pemberian dari Allah SWT. Novel ini sangat disarankan bagi para muda-mudi terutama yang menganggap bahwa kecantikan adalah segalanya. Tetapi, cerita yang disediakan masih kurang detail dan seharusnya masih banyak cerita-cerita menarik yang dapat disisipkan dalam dalam novel ini. Selain itu, teks cerita yang disediakan sebaiknya ditambah agar pembaca dapat lebih menghayati.
Share:

PUISI: Pagiku

Oleh: Intan Adhara


Ketika mentari mulai menampakan wajahnya

Awan gelap yang perlahan menjadi biru

Butiran embun pagi yang menetes

Jatuh membasahi tanah



Ku ingin miliki hangat sinarmu

Untuk selalu menghangatkan jiwaku

Ku ingin miliki hawa sejukmu

Tuk sejukkan sudut hatiku



Namun…

Ku tak mampu merebut hangatnya sinarmu

Ku hanya bisa menikmatimu setiap pagi

Jika siang mulai datang sinarmu menyengat tubuh ini



Ku hanya mampu menemukanmu saat ku buka jendela pagi hari

Ku melihatmu menggantung pada ujung daun

Akan berapa lama kau bertahan

Yang akhirnya terhisap oleh teriknya sang mentari.
Share: